Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Kawan... Katakan REVOLUSI !!!

Blog EntryJan 17, '12 2:04 AM
for everyone
Assalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Wa faddholahu ala katsirim mimman holaqo bil an'aam wat takriim. Fainis taqooma alaa thoo atallohis tamarro lahu hadzat tafdhiil fii jannaatin na'iim. wa illa rudda fil hawaani wal 'adzaabil aliim. Wa asyhadu al laa ilaaha illalloh wahdahu laa syariikalahu wa huwal khollaaqul aliim. Wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rosuuluhu syahida lahu robbuhu bi qoulihi [wa innaka la'alaa khuluqin adziim].

Shollallohu alaihi wa ala aalihi wa ashaabihil ladziina saaruu alan nahji qowimi was shirootil mustaqiim. Wa sallama tasliiman katsiiron. Amma Ba'du : Ayyuhan naas. Ittaqulloh ta'alaa wa'lamuu annalloha subhaanahu laa yandzuru ilaa suwarikum, wa innamaa yandzuru ilaa quluubikum wa a'maalikum.

Pertama-tama : Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan senantiasa memperbaiki hati kita masing-masing. Ketahuilah rahimkitamullah, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak melihat bentuk dan postur tubuh serta paras wajah seseorang, tetapi yang dilihat tidak lain adalah hati dan amalannya. Oleh karena itu, sebagaimana seseorang senantiasa membersihkan badan dan pakaiannya dari kotoran yang mengenainya, seharusnya dia juga memperbaiki amalan dan membersihkan hati-nya.

Sholawat dan salam, marilah kita haturkan pula kepada junjungan kita, tumpuan cinta kita, panutan kita Rosulullah Muhammad saw, beserta seluruh keluarga beliau, sahabat, thobi’in dan thobiut thobi’in dan pengikutnya yang setia hingga hari kiamat kelak.

Beliau beserta seluruh sahabat juga telah dengan gigih menyebarluaskan risalah Islam hingga manusia mengenal kebaikan, akhlaq yang sempurna, dan peradaban yang agung. Rosul dan sahabat juga telah membangun pondasi-pondasi kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Tak lupa khotib berwasiat kepada diri khotib pribadi dan kepada jamaah yang dirahmati Allah SWT untuk memerhatikan hati kita, karena rusaknya hati lebih berbahaya daripada rusaknya anggota badan. Rusaknya hati akan dirasakan akibatnya oleh si pemiliknya, baik ketika di dunia, apalagi saat di akhirat nanti. Akan tetapi, rusaknya anggota badan hanya dirasakan saat di dunia dan akan berakhir dengan datangnya kematian.

Demikian pula hati atau hati, hati yang sakit terlihat dari ketidakmampuannya melaksanakan tugas khusus yang karenanya Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakannya yaitu mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mencinta-Nya serta untuk beribadah kepada-Nya semata. Maka barangsiapa yang lebih mencintai dan lebih mementingkan sesuatu selain Allah Subhanahu wa Ta’ala berarti hatinya sakit.

Jamaah sholat jum’at yang dirahmati Allah SWT.

Ada suatu penyakit yang lebih berbahaya dari semua penyakit jasmani yang paling berbahaya. Sungguh suatu kerugian bila seseorang ditimpa suatu penyakit tapi ia sendiri tidak menyadarinya. Penyakit ini mudah sekali menular dan mudah tertanam ini mudah sekali menular dan mudah tertanam dalam tubuh, dan tidak menutup kemungkinan kita mengidap penyakit yang sangat berbahaya itu. Penyakit itu adalah penyakit hati.

Ada enam penyakit hati yang akan kami sebutkan pada kesempatan yang berbahagia ini, yang kesemuanya adalah penyakit-penyakit yang sangat berbahaya yang sering menjangkit umat. Di antara penyakit-penyakit tersebut adalah:

Sebab penyakit hati pertama, berbuat syirik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Syirik adalah jika seorang menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ibadah kepada-Nya. Di samping dia beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dia juga beribadah kepada selain Allah. Perbuatan syirik adalah perbuatan yang sangat tercela dan terlaknat.

Orang yang terkena penyakit ini ia akan menjalani hidupnya di dunia ini dengan iman dan aqidah yang cacat, hatinya akan selalu sakit, semua yang dilkitakannya hanya berkisar nafsu belaka, dia tidak akan mengenal agama Islam ini dengan baik, sebaliknya dia akan mendapatkan kesedihan, perasaan tkitat, dan kehancuran, bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati orang-orang yang berbuat syirik kedudukannya lebih rendah dari binatang-binatang ternak. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (QS. Al-Furqan: 44)

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah

Disebutkan di dalam Alquran, orang yang berbuat syirik seperti seorang yang jatuh dari langit, kemudian disambar oleh burung-burung, dan dicabik-cabiknya, atau dilemparkan oleh angin ke tempat yang jauh dan hina.” Nas’alullaha al-afiyah.

Ma’asyiral muslimin rahimkitamullah

Sebab penyakit hati kedua, perbuatan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Apabila kemaksiatan sudah bertumpuk dalam hati seseorang, maka dia akan menghalangi pandangan hati sehingga dia tidak dapat melihat, menyadari, memahami serta berfikir tentang ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jika maksiat telah berkumpul dalam hatinya, maka dia akan mencengkramnya sehingga hatinya tidak menyenangi kebaikan dan tidak mau berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu yang paling menyedihkan ia akan dikuasai oleh hawa nafsurnya yang jahat, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya dijuurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (QS. Al-A’raf: 176)

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala

Sebab penyakit hati ketiga adalah kelalaian dari berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Manusia yang lengah akan terkejut tatkala mendengar dzikir atau nasihat dari seseorang, meskipun dia seorang penuntut ilmu, apalagi orang awam Hal ini disebabkan kelalaian dari merenungi ayat-ayat-Nya sehingga setan masuk melalui peredaran darahnya menuju hatinya. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa mengingatkan hal ini sebagaimana dalam firman-Nya,

“Dan telah dekat kedatangan janji yang benar (hari berbangkit). Maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir. (mereka berkata): “Aduhai, celakalah Kami, Sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya: 97)

Orang yang lengah atau lalai diibaratkan seperti orang yang masuk ke dalam masjid lalu setan menekannya sehingga orang tersebut tidak berdzikir kepada Allah sedikit pun, seperti orang yang datang ke sebuah majelis ta’lim dia malah tertidur atau memikirkan hal-hal dunia, sehingga ia tidak memahami isi dari kajian tersebut.

Kelengahan menyerang hati seseorang, sehingga membuatnya berpaling dari taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak senang berdzikir, tidak senang mendengar suatu kebaikan dan tidak mau mendekat kepada ahli dzikir yaitu para ulama.

Sidang Jumat yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala

Sebab penyakit hati keempat adalah berpaling dari mempeajari ilmu agama, mendalami, dan mempelajari sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pada zaman sekarang ini, kita sering mendapati orang lebih faham ilmu dunia daripada ilmu agama, bahkan masalah-masalah yang ringan dalam agama mereka tidak mengetahuinya, tata-cara berwudhu atau mandi sesuai sunah atau yang lebih sederhana dari pada itu mereka tidak memahaminya, mereka lebih mendahulukan urusan dunia yang fana ini.

Kemudian ada sebagian kaum muslimin yang berpaling dari membaca dan memahami Alquran dan al-Hadis, sehingga hati mereka terjangkit suatu penyakit berbahaya. Reaita membuktikan pada zaman sekarang ini, banyak para pemuda muslim yang buta akan huruf Alquran dan tidak bisa membacanya. Mereka enggan belajar ilmu agama Islam yang benar, yang digali dari Alquran dan sunah berdasarkan pemahaman para pendahulu mereka yang shaleh seperti para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka lebih menyukai mempelajari buku-buku hasil karya musuh-musuh Islam, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman,

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunnya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia, ‘Ya Robbku, mengapa Engkau menghimpunkan kitad alam keadaan buta, padahal kita dahulunya adalah seorang yang melihat?’ Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan.” (QS. Toha: 124-126)

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala

Sebab penyakit hati kelima, sibuk dengan urusan dunia dan mengabaikan agama.

Apabila seorang telah terjangkit penyakit ini, maka waktu-waktunya, baik siang atau malam ia habiskan untuk mengejar dunianya, pikirannya terfokus agar tercapai semua keinginannya. Adapun akhirat mereka kesampingkan sehingga tidak heran kalau kita dapati di masjid-masjid kaum muslimin ketika khutbah Jumat mereka tertidur, tidak memperhatikan dan mendengarkan khutbah, padahal mendengarkan dua khutbah tersebut hukumnya wajib, yang demikian karena mereka telah kelelahan dengan urusannya. Kalaupun mata mereka tidak tertidur pikirannyalah yang terbang melayang bersama angan-angan dan lamunannya. Naudzubillah

Kita khawatir inilah sifat yang difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa ia termasuk orang-orang yang lari dari berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam Alquran Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Alquran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24)

Mudah-mudahan kita tidak termasuk orang-orang yang lalai hati kita dari berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mudah-mudahan Allah menolong kita sehingga senantiasa kita dapat menghindari penyebab-penyebab sakit hati tersebut dan senantiasa diberikan petunjuk dan hidayah-Nya. Amin.

Khutbah II

Alhamdulillah. Alhamdulillahil robbil ‘aalamin. Nahmaduhu wa nasta’iinuhu wanas tahdiih wa nastaghfiruh. Wa na’udzubillahi min sururi anfusina wa syayyiati a’maalina man yahdillahi fahuwal muhtad. Walan yudlil falan tajida lahu waliyyam mursyida.

Apakah kematian itu akan datang?
Siapa yang tidak akan didatangi oleh kematian?
Alam kubur?

Apakah kita akan selamat dalam ujian itu ?

Sungguh,.. ajal akan menjemput semua makluk hidup, sunguh,..saat itu akan datang sebagaimana telah sering kita saksikan ia mendatangi orang lain, teman-teman kita, tetangga kita, bahkan orang tua atau kerabat kita.

Dan kita pasti tidak dapat mengetahuai kapan ia akan menjemput kita sebagaimana orang lain tidak menduga saat ia datang.

Sungguh dia akan menjemput kita pergi ke tempat yang tak mampu kita bayangkan,..
Tempat yang tidak pernah kembali lagi,. mereka yang pergi ke sana,

Tak ada alasan bagi ku untuk tidak percaya hal itu bakal terjadi, sebagaimana tak ada alasan bagi ku untuk mengingkari adanya Al Khaliq.

Itu akan terjadi dan pasti akan terjadi sebagaimana tak ada alasan bagi ku untuk memungkiri adanya getaran kegelisahan dalam batin tatkala kita melakukan perbuatan dosa.

Hanya saja. Sanggupkah kita menghadapi ujian dan pertanyaan yang akan diajukan kepadkita ? bagaimana kita harus bersikap Saat kita didudukkan di lubang yang gelap, kemudian datanglah kepada ku dua malaikat mengajukan pertanyaan: Siapa Rabb-mu, apa agamamu, dan siapa nabimu ?
Sanggupkah kita menjawabnya ? …
Apa yang akan kita katakan,..

Bagaimana kita menjawab ketika ditanya tentang siapa Rabb-ku ? Cukupkah kujawab : Rabb-ku adalah ALLAH ?

Semudah itukah menghadapi fitnah qubur ?

Rasanya tidak. Tidak akan semudah itu. Sebagaimana telah tertanamkan dalam jiwa kita keyakinan akan adanya Engkau Ya Allah,

tertanam pula keyakinan ,bahwa tidaklah segala sesuatu itu ada dan terjadi dengan sendirinya serta tanpa maksud dan tujuan.

Lantas bolehkah terlintas dalam benakku : “Mustahil kita akan tersesat dan terjatuh ke dalam kekufuran.” ? Bolehkah terucap lewat lisanku: “Keberhasilan yang kita peroleh adalah semata-mata hasil prestasiku.” ?

Bolehkah kita beranggapan : “Bahwa tanda keridhoan-Mu adalah dengan terjadinya apa yang terjadi atau berlkitanya apa yang hendak kita lkitakan.” ?

Ya, ALLAH. Ternyata tak ada jalan untuk mengenal Mu kecuali melalui diri-Mu.

Kalau bukan karena hidayah-Mu, sungguh akan tertanam dalam batinku, terucap dari lisanku, dan terwujud lewat perbuatanku segala yang bertentangan dengan kekuasaan-Mu,

bertentangan dengan hak-Mu untuk diibadahi, serta bertentangan dengan kemuliaan nama-nama dan sifat-sifat-Mu.

Maka, sudahkah kita mengenal segala kekuasan-Mu dan mengakui keesaan-Mu dalam hal mencipta, memiliki, dan mengatur alam semesta ini?

Kemudian, apa yang akan kita katakan ketika ditanya tentang apa agama kita? Cukupkah kujawab: Agama kita Islam?

Semudah itukah menghadapi fitnah qubur? Rasanya tidak.

Tidak akan semudah itu. Sebagaimana telah tertanam di dalam jiwa kita keyakinan akan kesempurnaan agama ini,

tertanam pula keyakinan bahwa agama ini disampaikan kepada manusia agar mereka memperoleh kemudahan dan kebahagiaan hidup di dunia – sebelum di akhirat kelak tentunya-.

Ya, ALLAH. Kalau bukan karena hidayah-Mu, sungguh akan tertanam di dalam bathin kita, terucap dari lisan kita, dan terwujud lewat perbuatan kita segala yang bertentangan dengan agama yang mulia ini.

Bahkan boleh jadi kita tak mengenal agama ini sebagaimana ia diperkenalkan oleh pembawanya.

Boleh jadi kita tak mengenal keseluruhan aturan yang ada di dalam nya. Dan boleh jadi kita telah terjatuh ke dalam perbuatan yang telah mengeluarkan kita dari nya.

Kemudian, apa yang akan kita katakan ketika ditanya tentang siapa nabiku? Cukupkah kujawab: Nabiku Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ? Semudah itukah fitnah qubur ? Rasanya tidak.

Tidak akan semudah itu. Sebagaimana telah tertanam keyakinan dalam bathinku tentang kemuliaan akhlaqnya, sifat amanahnya, dan kejujurannya, tertanam pula keyakinan bahwa dialah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam teladan terbaik bagi umat manusia.

Lantas bolehkah terlintas dalam benakku: “Ada jalan untuk mendekatkan diri kepada ALLAH Subhanahu Wa Ta’aala selain dari yang telah dicontohkan oleh beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam”

Namun mengapa sering bathin ini protes dan merasa berat dengan apa yang telah ia tetapkan dan contohkan ? Mengapa aqal dan hawa nafsu ini sering merasa lebih tahu -tentang baik dan buruk- ketimbang beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ?

Sungguh, kita akan berhadapan dengan pertanyaan yang jawabnya tak cukup di lisan, tetapi dari dalam keyakinan dan dibuktikan oleh perbuatan. Bukan hasil dari menghafal, tetapi dari beramal.Tak ada yang sanggup menuntun kita untuk menjawabnya kelak kecuali Engkau, Ya ALLAH. Kita tahu itu dan kita yakin, sebagaimana telah Engkau janjikan:
“ALLAH meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat…”(Ibrahim: 27)

Robbanaa dzolamna anfusana (ya Allah kami dzolim kepada diri kami) wa idz lam taghfirlanaa (dan  bila Engkau tak mengampuni kami) wa tarhamnaa (dan menyayangi kami). Lanaa kuunanna minal khoosirin (sungguh kami akan menjadi merugi).

Robbanaa atina fiddunya hasanah (ya Allah jadikan kehidupan dunia kami baik). Wa fil aakhiroti hasanah (dan kehidupan akhirat kami baik). Wa qina adzaaban naar (dan lindungilah kami dari siksa neraka).

Fashollallahu ala muhammadin wa alaa aalihi wa ashaabihi ajmain. Walhamdulillahi robbil aalamin. Waladzikrullahi akbar. Aqimis Sholaah.

Add a Comment